Proses
Komunikasi Dalam Perusahaan
1. Komunikator
memiliki gagasan atau ide
Komunikasi
diawali dengan munculnya gagasan atau ide yang ingin disampaikan komunikator
kepada khalayak. Ide tersebut bisa berasal dari mana saja, dan berupa apa saja.
idea tau gagasan yang dimiliki setiap orang bisa berbeda-beda meskipun berasal
dari sumber yang sama, karena setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam
memandang dan menanggapi sesuatu.
2. Komunikator
mengemas gagasan atau ide menjadi pesan
Untuk dapat
menyampaikan ide atau gagasan yang dimilikinya, komunikator perlu mengubah ide
atau gagasan tersebut kedalam bentuk sebuah pesan. Hal ini perlu dilakukan agar
ide tersebut juga bisa diterima dan dipahami oleh orang lain, meskipun orang
tersebut memiliki cara pandang yang berbeda. Dengan pesan tersebut, orang lain
dapat melihat cara pandang yang komunikator gunakan. Pesan dibuat sejelas
mungkin agar tidak terjadi kesalahan persepsi.
3. Komunikator
memilih target (komunikan)
Komunikator
perlu memilih target, baik individu atau kelompok, yang sesuai dengan pesan
yang akan disampaikannya. Misalnya jika pesan tersebut mengenai cara praktis
belajar bahasa, maka target utama penyampaian pesan (komunikan) adalah pelajar
atau mahasiswa yang sedang belajar bahasa. Jika pesan tersebut mengenai
kesehatan ibu hamil, maka komunikan yang menjadi target utama adalah ibu hamil.
Semakin spesifik target yang dipilih akan semakin baik
4. Komunikator
memilih cara dan media penyampaian pesan
Cara
penyampaian pesan serta media atau saluran penyampaian pesan yang dipilih perlu
direncanakan dengan baik. Komunikator perlu memperhatikan detail target yang
telah dipilihnya, seperti bahasa dan budaya, media yang sering digunakan atau
familiar bagi mereka, pandangan-pandangan yang berkembang disekitar mereka, dan
lain sebagainya. Semakin detail data yang komunikator kumpulkan, akan semakin
baik perencanaan yang bisa dibuat
5. Pesan
disampaikan kepada komunikan
Setelah pesan
yang akan disampaikan dibuat, target telah ditentukan, lalu cara penyampaian
serta media penyampaian pesan telah direncanakan, maka proses selanjutnya
adalah penyampaian pesan kepada komunikan. Penyampaian pesan sebaiknya
dilakukan sesuai rencana, namun tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan.
Untuk komunikasi langsung, dimana komunikator dan komunikan saling bertatap
muka, proses penyampaian pesan akan lebih dinamis. Komunikator dapat segera
menyasuaikan proses penyampaian pesan dengan melihat gesture (gerak
tubuh, mimik muka) komunikan.
6. Pesan
diterima oleh komunikan
Komunikasi baru
dapat dikatakan terjadi, jika pesan yang disampaikan komunikator telah diterima
komunikan. Misalnya ketika seseorang mengirim email, maka komunikasi baru
terjalin ketika penerima email telah membaca isi email tersebut. Jika komunikan
tidak menerima pesan yang disampaikan komunikator, komunikasi tidak lagi
efektif.
7. Komunikan
menafsirkan pesan yang diterima
Setelah
komunikan menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator, komunikan akan
melakukan penafsiran-penafsiran untuk mencoba memahami pesan yang disampaikan.
Semakin jelas pesan yang disampaikan, semakin baik penafsiran yang dilakukan.
Pesan yang baik akan dengan mudah dimengerti oleh komunikan dan menghindari
kesalahan penafsiran pesan.
8. Komunikan
memahami gagasan atau ide yang disampaikan
Setelah
komunikan mencoba mengartikan isi pesan, maka komunikan mulai memahami pesan
dan mengerti idea tau gagasan yang disampaikan komunikator melalui pesan
tersebut. Lamanya pemahaman pesan bergantung kejelasan pesan yang disampaikan,
cara dan media yang digunakan serta daya tangkap komunikan. Jika komunikasi
dilakukan secara langsung, komunikator dapat memberikan informasi-informasi
tambahan agar komunikan dapat memahami isi pesan dengan cepat dan tepat.
9. Komunikan
menentukan sikap atas gagasan atau ide yang sampaikan
Setelah
komunian memahami isi pesan yang diterimanya, selanjutnya komunikan akan
menentukan sikapanya apakah menerima atau menolak ide atau gagasan yang
terkandung dalam pesan tersebut. Jika komunikasi efektif, komunikan akan
menerima gagasan tersebut.
10. Komunikan
memberikan respon (feedback) positif
Setelah
komunikan memutuskan sikapnya, selanjutkan komunikan akan menyampaikan sikap
yang diambilnya dengan sebuat tindakan, yaitu memberikan respon (feedback).
Respon yang diberikan komunikan sebenarnya bisa bermacam jenisnya, antara lain
zero feedback: jika pesan tidak dimengerti oleh; positif
feedback: jika respon yang diberikan bersifat positif (mendukung); Neutral
feedback: jika komunikan tidak mendukung atau menolak isi pesan; dan Negative
feedback: jika
11. Respon (feedback)
diterima oleh komunikator
Respon yang
disampaikan oleh komunikan akan diterima oleh komunikator. Respon dari
komunikan tersebut sangat penting, sebab respon dari komunikan merupakan
penghubung akhir proses komunikasi. Melalui respon tersebut, komunikator dapat
menggetahui tanggapan komunikan dan menilai keefektifan komunikasi yang
terjadi. Proses komunikasi yang efektif akan menghasilkan respon positif.
12. Komunikator
menindaklanjuti respon (feedback) yang diterimanya
Jika respon
yang diterima positif, yang mengartikan bahwa proses komunikasi telah dilakukan
secara efektif, maka selanjutnya komunikator menindaklanjuti respon tersebut
dengan menjalankan gagasan atau ide yang terkandung dalam pesan tersebut.
Misalnya jika isi pesan adalah mengenai produk tertentu, dan respon komunikan
adalah membeli produk tersebut, maka komunikator menindaklanjuti respon
tersebut dengan memberikan produk yang dibeli komunikan, dan mengedukasi
komunikan mengenai penggunaan produk.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar