Sabtu, 31 Maret 2018


Proses Komunikasi Dalam Perusahaan

1. Komunikator memiliki gagasan atau ide
Komunikasi diawali dengan munculnya gagasan atau ide yang ingin disampaikan komunikator kepada khalayak. Ide tersebut bisa berasal dari mana saja, dan berupa apa saja. idea tau gagasan yang dimiliki setiap orang bisa berbeda-beda meskipun berasal dari sumber yang sama, karena setiap manusia memiliki cara yang berbeda dalam memandang dan menanggapi sesuatu.
2. Komunikator mengemas gagasan atau ide menjadi pesan
Untuk dapat menyampaikan ide atau gagasan yang dimilikinya, komunikator perlu mengubah ide atau gagasan tersebut kedalam bentuk sebuah pesan. Hal ini perlu dilakukan agar ide tersebut juga bisa diterima dan dipahami oleh orang lain, meskipun orang tersebut memiliki cara pandang yang berbeda. Dengan pesan tersebut, orang lain dapat melihat cara pandang yang komunikator gunakan. Pesan dibuat sejelas mungkin agar tidak terjadi kesalahan persepsi.
3. Komunikator memilih target (komunikan)
Komunikator perlu memilih target, baik individu atau kelompok, yang sesuai dengan pesan yang akan disampaikannya. Misalnya jika pesan tersebut mengenai cara praktis belajar bahasa, maka target utama penyampaian pesan (komunikan) adalah pelajar atau mahasiswa yang sedang belajar bahasa. Jika pesan tersebut mengenai kesehatan ibu hamil, maka komunikan yang menjadi target utama adalah ibu hamil. Semakin spesifik target yang dipilih akan semakin baik
4. Komunikator memilih cara dan media penyampaian pesan
Cara penyampaian pesan serta media atau saluran penyampaian pesan yang dipilih perlu direncanakan dengan baik. Komunikator perlu memperhatikan detail target yang telah dipilihnya, seperti bahasa dan budaya, media yang sering digunakan atau familiar bagi mereka, pandangan-pandangan yang berkembang disekitar mereka, dan lain sebagainya. Semakin detail data yang komunikator kumpulkan, akan semakin baik perencanaan yang bisa dibuat
5. Pesan disampaikan kepada komunikan
Setelah pesan yang akan disampaikan dibuat, target telah ditentukan, lalu cara penyampaian serta media penyampaian pesan telah direncanakan, maka proses selanjutnya adalah penyampaian pesan kepada komunikan. Penyampaian pesan sebaiknya dilakukan sesuai rencana, namun tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan. Untuk komunikasi langsung, dimana komunikator dan komunikan saling bertatap muka, proses penyampaian pesan akan lebih dinamis. Komunikator dapat segera menyasuaikan proses penyampaian pesan dengan melihat gesture (gerak tubuh, mimik muka) komunikan.
6. Pesan diterima oleh komunikan
Komunikasi baru dapat dikatakan terjadi, jika pesan yang disampaikan komunikator telah diterima komunikan. Misalnya ketika seseorang mengirim email, maka komunikasi baru terjalin ketika penerima email telah membaca isi email tersebut. Jika komunikan tidak menerima pesan yang disampaikan komunikator, komunikasi tidak lagi efektif.
7. Komunikan menafsirkan pesan yang diterima
Setelah komunikan menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator, komunikan akan melakukan penafsiran-penafsiran untuk mencoba memahami pesan yang disampaikan. Semakin jelas pesan yang disampaikan, semakin baik penafsiran yang dilakukan. Pesan yang baik akan dengan mudah dimengerti oleh komunikan dan menghindari kesalahan penafsiran pesan.
8. Komunikan memahami gagasan atau ide yang disampaikan
Setelah komunikan mencoba mengartikan isi pesan, maka komunikan mulai memahami pesan dan mengerti idea tau gagasan yang disampaikan komunikator melalui pesan tersebut. Lamanya pemahaman pesan bergantung kejelasan pesan yang disampaikan, cara dan media yang digunakan serta daya tangkap komunikan. Jika komunikasi dilakukan secara langsung, komunikator dapat memberikan informasi-informasi tambahan agar komunikan dapat memahami isi pesan dengan cepat dan tepat.
9. Komunikan menentukan sikap atas gagasan atau ide yang sampaikan
Setelah komunian memahami isi pesan yang diterimanya, selanjutnya komunikan akan menentukan sikapanya apakah menerima atau menolak ide atau gagasan yang terkandung dalam pesan tersebut. Jika komunikasi efektif, komunikan akan menerima gagasan tersebut.
10. Komunikan memberikan respon (feedback) positif
Setelah komunikan memutuskan sikapnya, selanjutkan komunikan akan menyampaikan sikap yang diambilnya dengan sebuat tindakan, yaitu memberikan respon (feedback). Respon yang diberikan komunikan sebenarnya bisa bermacam jenisnya, antara lain zero feedback: jika pesan tidak dimengerti oleh; positif feedback: jika respon yang diberikan bersifat positif (mendukung); Neutral feedback: jika komunikan tidak mendukung atau menolak isi pesan; dan Negative feedback: jika
11. Respon (feedback) diterima oleh komunikator
Respon yang disampaikan oleh komunikan akan diterima oleh komunikator. Respon dari komunikan tersebut sangat penting, sebab respon dari komunikan merupakan penghubung akhir proses komunikasi. Melalui respon tersebut, komunikator dapat menggetahui tanggapan komunikan dan menilai keefektifan komunikasi yang terjadi. Proses komunikasi yang efektif akan menghasilkan respon positif.
12. Komunikator menindaklanjuti respon (feedback) yang diterimanya
Jika respon yang diterima positif, yang mengartikan bahwa proses komunikasi telah dilakukan secara efektif, maka selanjutnya komunikator menindaklanjuti respon tersebut dengan menjalankan gagasan atau ide yang terkandung dalam pesan tersebut. Misalnya jika isi pesan adalah mengenai produk tertentu, dan respon komunikan adalah membeli produk tersebut, maka komunikator menindaklanjuti respon tersebut dengan memberikan produk yang dibeli komunikan, dan mengedukasi komunikan mengenai penggunaan produk.
Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar